Sabtu, 09 Maret 2013

Tinjauan Makna IBADAH dalam Al-qur’an


Istilah ibadah sungguh amat lekat dengan keseharian seorang mukmin, meskipun jika dicermati istilah itu terkadang masih banyak menimbulkan pertanyaan yang memancing keinginan untuk kembali berfikir tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan istilah ibadah tersebut.

Sering disebutkan oleh khalayak muslim, khususnya di Indonesia perkataan yang menggabungkan kata ibadah dengan kata haji, sholat ataupun puasa (ibadah haji, ibadah sholat, ibadah puasa) padahal di dalam literatur ayat al-qur’an dan hadits Rasulullah T, tidak satupun kata ibadah digabungkan dengan kata haji  (عــبادة الحــج   ), sholat (  عــبادة الصــلاة   )  ataupun shiam (  عــبادة الصــيام ).  Tentunya penggunaan istilah ibadah seperti dalam bahasa Indonesia ini perlu mendapat perhatian, agar jangan sampai menjadikan distorsi pemahaman tantang makna ibadah yang dimaksud di dalam ayat al-qur’an dan hadits Rasulullah T .

Dalam salah satu ayatnya al-qur’an menyebutkan bahwa penciptaan manusia dan jin adalah dalam rangka untuk ibadah (QS Ad-dzaariyat 51:56), dan Allah memerintahkan kepada seluruh manusia agar beribadah kepada Rab yang telah menciptakan manusia (QS Al-baqoroh 2:21). Ke dua ayat tsb memberikan pengertian bahwa tidak ada satupun manusia atau jin yang tidak ibadah. Namun dalam hal ibadah bisa saja terjadi kemungkinan mereka beribadah kepada selain Allah. Maka perintah Allah pada QS 2:21 menekankan tentang “pihak” yang seharusnya menjadi objek (maf’uul bih) dari ibadah, yaitu diri Nya yang merupakan satu-satunya Rab yang telah menciptakan manusia, bahkan juga alam semesta ini. (QS Al-Fatihah 1:2). Dalam ayat lainya  QS Al-An’am 6:102  disebutkan :

ãNà6Ï9ºsŒ ª!$# öNä3š/u ( Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ( ß,Î=»yz Èe@à2 &äó_x« çnrßç6ôã$$sù 4 uqèdur 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« ×@Å2ur ÇÊÉËÈ  
(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu.

Jadi kata Ibadah di dalam al-qur’an digandengkan dengan objek yang di ibadahi, yaitu Allah atau selain Allah. Ibadah kepada Allah (يعـــبدالله  ) atau ibadah kepada selain Allah ( يعـــبد من دون الله). Jika manusia memilih untuk ibadah kepada selain Allah, maka perbuatan (sikap) tersebut diistilahkan dengan kata kufur dan manusianya disebut dengan istilah kaafir (QS Al-furqon 25:55). Dan disebutkan dalam al-qur’an bahwa orang kafir juga ibadah (QS Al-Kaafirun 109:1-6).

Ibadah kepada Allah, disebut di dalam al-qur’an dengan istilah shirath al-mustaqim (QS Al-imran 3:51, QS Maryam 19:36, QS Ya-siin 36:61, QS Az-zukhruf 43:64), maka perintah Allah agar manusia beribadah kepada Allah diajarkan oleh Rasulullah T  kepada ummat nya sebagai bentuk ajakan (dakwah) kepada shirath al-mustaqim (QS Al-mukminun 23:73), dan Allah pun menurunkan ayat-ayat Nya (kitab) yang mengandung penjelasan adalah sebagai petunjuk ( huda ) bagi manusia kepada shirath al-mustaqim (QS An-nuur 24:46)  

Jadi Ibadah kepada Allah adalah muara dari semua perintah dan petunjuk Allah kepada manusia. Dalam QS Al-bayyinah 98:5, disebutkan :

!$tBur (#ÿrâÉDé& žwÎ) (#rßç6÷èuÏ9 ©!$# tûüÅÁÎ=øƒèC ã&s! tûïÏe$!$# uä!$xÿuZãm (#qßJÉ)ãƒur no4qn=¢Á9$# (#qè?÷sãƒur no4qx.¨9$# 4 y7Ï9ºsŒur ß`ƒÏŠ ÏpyJÍhŠs)ø9$# ÇÎÈ  
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.


Al-qur’an QS Al-bayyinah 98:5 tsb ternyata menghubungkan tentang perkara ibadah kepada Allah dengan tegaknya ad-dien ( dienul qoyyimah ), dan dalam ayat yang lain QS Al-an’am 6:161 disebutkan bahwa shirath al-mustaqim (ibadah kepada Allah) itu wujudnya adalah tegaknya ad-dien yang adalah millah Ibrahim yang  haniif  (dalam QS 98:5, disebutkan dengan istilah  hunafaa )dan yang tidak ada kesyirikan padanya.

ö@è% ÓÍ_¯RÎ) ÓÍ_1yyd þÎn1u 4n<Î) :ÞºuŽÅÀ 5OŠÉ)tGó¡B $YYƒÏŠ $VJuŠÏ% s'©#ÏiB tLìÏdºtö/Î) $ZÿŠÏZym 4 $tBur tb%x. z`ÏB tûüÏ.ÎŽô³ßJø9$# ÇÊÏÊÈ  

Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah Termasuk orang-orang musyrik".


Sampai disini, ternyata al-qur’an telah memberikan uraian tentang istilah ibadah yang juga dikaitkan dengan perkara tegaknya ad-dien dan perkara kemusyrikan.

Keterkaitan ibadah kepada Allah dengan perkara kemusyrikan disebutkan di dalam ayat QS Al-an’am 6:88 bahwa perkara kemusyrikan bisa mengakibatkan batalnya amalan seorang hamba Allah yang telah mendapatkan petunjuk ( huda ) atau dengan kata lain batalnya amal yang dilakukan seorang yang  ibadah kepada Allah.

y7Ï9ºsŒ yèd «!$# Ïöku ¾ÏmÎ/ `tB âä!$t±o ô`ÏB ¾ÍnÏŠ$t6Ïã 4 öqs9ur (#qä.uŽõ°r& xÝÎ6yss9 Oßg÷Ztã $¨B (#qçR%x. tbqè=yJ÷ètƒ ÇÑÑÈ    

Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya. seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.

 Sedangkan keterkaitan antara ibadah kepada Allah dengan perkara penagakan ad-dien, disebutkan di dalam QS Yunus 10:104-105 dan QS Ar-rum 30:30-31 bahwa ibadah kepada Allah itu adalah “menghadapkan wajah” kepada ad-dien yang haniif dengan menghindarkan kesyirikan, dan hal inilah yang disebut Allah sebagai  penegakan ad-dien al-qoyyim (agama yang tegak)

Jadi ibadah kepada Allah itu juga adalah tegaknya ad-dien (agama) dengan tanpa adanya kesyirikan.



Semoga ada manfaatnya.
Wallaahu a’lam bi ash-showabb…..

1 komentar: